Beranda / SERBA-SERBI / Komisi Dakwah MUI Jawa Tengah 2026–2031 Teguhkan Dakwah yang Mencerahkan dan Merangkul

Komisi Dakwah MUI Jawa Tengah 2026–2031 Teguhkan Dakwah yang Mencerahkan dan Merangkul

SEMARANG — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah mengukuhkan kepengurusan periode 2026–2031 pada Senin, 24 Agustus 2026, di Gradhika Bhakti Praja, Kompleks Gubernuran Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Semarang. Pengukuhan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat peran ulama dan dai dalam menjawab dinamika kehidupan masyarakat.

Komisi Dakwah MUI Jawa Tengah periode 2026–2031 diisi oleh sejumlah tokoh lintas keilmuan dan organisasi, yaitu Dr. H. Sarjuni, S.Ag., M.Hum.; Dr. H. Agus Fathudin Yusuf, MA.; Drs. H. Istajib AS; Moh. Yasir Alimi, S.Ag., MA., Ph.D.; Dr. H. KRAT. AM. Jumai, SE., MM.; Hj. Tazkiyatul Mutmainah, SKM., M.Kes.; Dr. H. Fachru Rozi, M.Ag.; KH. Mat Rozi; Dr. KH. Saeful Amar, Lc., M.Si.; serta Prof. Dr. Agus Waluyo.

Hadir dalam agenda tersebut Ketua Umum MUI Pusat KH Anwar Iskandar, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur Jawa Tengah Gus Yasin, Sekda Provinsi Jawa Tengah Sumarno, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jawa Tengah KH Dr. Ahmad Daroji, Sekretaris Majelis Pertimbangan MUI Jawa Tengah KH Dr. Tafsir, M.Ag., serta Ketua Umum MUI Jawa Tengah Prof. Dr. Noor Ahmad. Turut hadir para tokoh lintas ormas, profesi, perguruan tinggi negeri dan swasta, serta sejumlah kepala daerah di Jawa Tengah.

Komisi Dakwah berkomitmen menghadirkan dakwah yang mencerahkan, mencerdaskan, menggerakkan, dan menggembirakan umat. Dakwah santun, sejuk, dan merangkul menjadi pendekatan utama agar pesan Islam dapat diterima secara luas tanpa kehilangan nilai keteguhan ajaran.

Dr. H. KRAT. AM. Jumai, yang juga Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, menegaskan pentingnya meramu dakwah dengan kekayaan budaya serta mengembangkan dakwah komunitas lintas batas.

Menurutnya, dakwah harus mampu hadir di berbagai ruang kehidupan, termasuk menjangkau masyarakat di “dunia gelap dan gemerlap”. Pendekatan yang humanis, dialogis, dan tidak menghakimi diharapkan mampu menghadirkan Islam sebagai agama yang membawa rahmat, solusi, dan kegembiraan bagi seluruh lapisan masyarakat.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *