Beranda / SERBA-SERBI / Pengamat PSHPI Soroti Anjloknya Nilai Rupiah, Masyarakat Berpotensi Hadapi Tekanan Ekonomi dan Sosial

Pengamat PSHPI Soroti Anjloknya Nilai Rupiah, Masyarakat Berpotensi Hadapi Tekanan Ekonomi dan Sosial

KABARNUSANTARAnews

Semarang- Pengamat Sosial, Hukum dan Politik Indonesia (PSHPI), Adi Setijawan, SH, menyoroti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dinilai dapat memberikan dampak luas terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia.

Menurut Adi Setijawan, pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan angka dalam dunia keuangan, tetapi memiliki konsekuensi nyata yang langsung dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Kenaikan harga kebutuhan pokok, meningkatnya biaya energi, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi dampak yang perlu diwaspadai.

“Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor bahan baku dan barang konsumsi menjadi lebih mahal. Kondisi ini memicu kenaikan harga barang dan jasa yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat karena nilai riil pendapatan dan tabungan ikut menurun,” ujar Adi, Senin (8/6/2026).

Ia menjelaskan, salah satu dampak yang paling cepat dirasakan adalah melonjaknya harga pangan dan berbagai kebutuhan pokok. Banyak sektor industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor seperti kedelai, gandum, hingga pakan ternak. Ketika biaya impor meningkat, harga produk akhir yang dikonsumsi masyarakat juga ikut terdongkrak.

Selain itu, pelemahan rupiah juga berpotensi memengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif energi. Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan energi dengan transaksi menggunakan dolar Amerika Serikat.

Akibatnya, pemerintah dapat menghadapi beban subsidi yang lebih besar atau melakukan penyesuaian harga energi.

“Dampaknya bukan hanya pada harga barang, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas dunia usaha. Industri yang bergantung pada bahan baku impor seperti manufaktur, tekstil, dan farmasi akan menghadapi kenaikan biaya produksi yang signifikan. Jika kondisi ini berlangsung lama, tidak menutup kemungkinan terjadi efisiensi perusahaan yang berujung pada PHK,” jelasnya

Faktor Penyebab Rupiah Melemah
Adi Setijawan mengungkapkan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah mengalami tekanan.
Faktor pertama adalah menguatnya dolar Amerika Serikat. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam tersebut biasanya terjadi ketika perekonomian Amerika Serikat menunjukkan performa yang kuat atau saat Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada level tinggi. Kondisi tersebut membuat investor global lebih tertarik menyimpan dananya dalam bentuk dolar.

Faktor kedua adalah terjadinya arus keluar modal asing (capital outflow). Ketika investor asing menarik dana dari pasar saham maupun obligasi Indonesia, mereka akan menukarkan aset rupiahnya ke dolar sebelum dipindahkan ke luar negeri. Akibatnya, permintaan dolar meningkat sementara permintaan rupiah menurun sehingga nilai tukar rupiah semakin tertekan.

“Arus keluar modal asing dapat dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global, perubahan kebijakan moneter negara maju, maupun meningkatnya risiko investasi di negara berkembang. Jika terjadi secara besar-besaran, dampaknya terhadap rupiah akan sangat signifikan,” katanya.

Faktor ketiga adalah inflasi dalam negeri. Meskipun tingkat inflasi Indonesia masih berada dalam kategori terkendali, peningkatan inflasi tetap perlu diwaspadai karena dapat mengurangi kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Menurut Adi, inflasi yang tinggi menyebabkan daya beli masyarakat menurun dan membuat nilai riil mata uang menjadi lebih rendah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mengurangi minat investor untuk menempatkan modalnya di Indonesia.

Perlunya Langkah Antisipasi
Adi Setijawan berharap pemerintah, otoritas moneter, serta seluruh pemangku kepentingan dapat mengambil langkah antisipatif guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan melindungi daya beli masyarakat.

“Yang harus menjadi perhatian utama adalah bagaimana menjaga stabilitas ekonomi agar dampak pelemahan rupiah tidak semakin membebani masyarakat kecil. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya energi, dan ancaman berkurangnya lapangan pekerjaan harus menjadi fokus bersama,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya penting bagi dunia usaha dan investasi, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan sosial masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *